Screenshot_192

Mbah Wahab Mendidik Santri Tidak Rendah Diri

Screenshot_192Setelah menunggu cukup lama, akhirnya gelar pahlawan nasional untuk KH A Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) resmi didapatkan. Keberhasilan meraih gelar membanggakan tersebut membawa pesan bahwa para pegiat pesantren harus bisa memberikan kiprah terbaik bagi bangsa.

Penegasan ini disampaikan Nyai Hj Munjidah Wahab yang juga Wakil Bupati Jombang pada acara tahlilan bersama di area pemakanan keluarga besar Mbah Wahab yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Kamis petang, 6 Nopember 2014.

“Sudah ada dua tokoh ulama pesantren dari Jombang yang meraih gelar pahlawan nasional, yakni hadratus syaikh KH Hasyim Asy’ari dari Tebuireng dan ayahanda KH A Wahab Hasbullah dari pesantren ini,” katanya di hadapan para wartawan dan santri yang memadati area pemakaman Mbah Wahab.

“Sebentar lagi juga gelar serupa akan juga diupayakan untuk KH Bisri Syansuri dari Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang,” kata Bu Mun – sapaan akrab mantan Ketua PC Muslimat NU Jombang dua periode ini.

Terkait dengan pengakuan tersebut memberikan penegasan bahwa para kiai pesantren dan pegiat agama juga bisa bisa berikiprah dan memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan negara. “Ini juga kian menandaskan bahwa para santri bisa berkiprah dan memberikan prestasi terbaik bagi lingkungan dan perjuangan agama serta bangsa,” katanya.

Karena seperti diketahui, KH A Wahab Chasbullah yang dikenal sebagai salah satu pendiri dan penggerak jam’iyah Nahdlatul Ulama resmi akan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Kepastian penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini diterima keluarga, Kamis siang, 7 Nopember 2014.

“Betul, kami dari keluarga KH Abdul Wahab Hasbullah mendapat undangan resmi dari Kementrian Sosial untuk hadir di Istana Negara, besuk (hari ini, Jumat) jam 13.00 WIB,” ujar Bu Mun.

Sesuai dengan undangan dari Kementrian Sosial, dari pihak keluarga sebanyak dua orang yang resmi menghadiri penganugerahan Pahlawan Nasional kepada tokoh yang dikenal sangat dekat dengan presiden pertama RI, Ir Soekarno ini. “Resminya yang mewakili keluarga adalah saya dan kakak saya yakni Ibu Nyai Mahfudhoh Ali Ubaid,” terangnya.

Sebelum kegiatan tahlilan, Bu Mun berpesan agar para santri tidak rendah diri. “Justru dengan kelebihan pengetahuan agama yang kalian kuasai serta kemudahan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, maka hal itu tentunya kian memudahkan kalian untuk berkiprah di masyarakat,” tandas Wakil Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur ini.

“Anggapan bahwa santri hanya bisa jadi modin, harus kalian kesampingkan,” tandas Bu Mun. Karena dengan latarbelakang pendidikan baik formal maupun tempaan saat di pesantren, maka para santri bisa menjadi pahlawan bagi jamannya kelak.

Bu Mun memastikan bahwa dengan keahlian yang dimiliki, para santri juga nantinya dapat memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan negara. “Kalian bisa memilih menjadi dokter, ilmuan bahkan wartawan sekalipun,” katanya disambut aplaus santri.

Kegiatan tahlil bersama di pesarean pesantren ini sebagai ungkapan rasa syukur atas telah diraihnya gelar pahlawan nasional dari pemerintah. Hadir pada acara tersebut adalah KH Hasib Wahab (putra Mbah Wabah), Ema Umiyyatul Chusnah atau Ning Ema, serta Ning Eli atau Lailatun Ni’mah selaku cucu. (saif/ahay)