Screenshot_191

Nyai Hj Mundjidah Wahab; Wirid Khusus Agar Kebugaran Tetap Terjaga

NY Hj Mundjidah WahabIbu nyai kita ini termasuk perempuan yang tidak mengenal kata capek. Sejumlah jadual padat sudah menjadi langganan kesehariannya. Apalagi kini dipercaya sebagai Wakil Bupati Jombang yang dikenal sebagai kota santri. Kepada Aula, ia berbagi rahasia agar tetap fit dengan segudang aktifitas.

 

Nama lengkap perempuan ini Ibu Nyai Hj Mundjidah binti KH Abdul Wahab Hasbullah. Dilahirkan di Jombang 66 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 22 Mei 1948. Abahnya adalah seorang ulama besar yakni penggagas, pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama. Bu Nyai Mundjidah, sapaan akrabnya, lahir dan dibesarkan dalam tradisi dan kultur pesantren dimana nilai-nilai Islam yang humanis, inklusif dan toleran telah menjadi spirit dan inspirasi gerak kiprahnya. Melalui NU dan Partai Persatuan Pembangunan, aktualisasi inklusifisme dan humanisme Islam dilakukan secara konsisten dan berlangsung hingga saat ini. Konsistensi perjuangan inilah yang telah membentuk karakter pribadi yang kuat dan telah teruji dalam berbagai rezim politik, sekaligus sebagai pembeda dengan para politisi yang lain.

”Keragaman etnis, suku, bahasa,  budaya dan agama dalam naungan kebangsaan Indonesia adalah karunia ilahi yang mesti dijaga eksistensinya,” katanya kepada Aula. Karenanya, bagi Pengasuh Pondok Pesantren Putri Lathifiyah dua di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini, ”Memaksakan keseragamaan kebangsaan Indonesia dalam segala dimensinya, sama halnya mengingkari eksistensi karunia Allah,” terangnya.

 

Terlahir sebagai Aktifis

Bu Mun, sebagian orang menyapa, adalah simbol perempuan aktif di Jombang. Putra kesembilan dari pasangan Mbah Wahab dengan Nyai Hj Rahma ini telah menjadi saksi perjalanan bangsa. Ghirah perjuangan dari sang abah telah menitis dalam sanubarinya. Sehingga meski usia masih belia sudah turut aktif di garda depan perjuangan. Tahun 1965 pada tragedi berdarah G30S/PKI, ia memiliki andil yang tidak kecil dalam melawan kekejaman kaum sosialis atheis tersebut bersama elemen bangsa yang lain karena saat itu aktif sebagai Bendahara KAPPI Cabang Jombang.

Berproses di NU bukan menjadi sesuatu yang baru karena sudah kenal jam’iyah ini sejak bocah. ”Abah selalu mengajak anak-anak mengikuti kemana saja ada kegiatan jamiyah, utamanya Muktmar NU,” kenangnya. ”Ini juga yang telah mentradisikan keikutsertaan segenap keluarga guna menyemarakkan gaung muktamar,” lanjutnya.

Organisasi Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) diikuti sejak dini dan akhirnya dipercaya menjadi ketua (1965-1968). ”Banyak kenangan manis semasa berproses di IPPNU,” katanya dengan senyum khasnya. Diantaranya, bagaimana senantiasa menjaga semangat pantang menyerah dalam berjuang, membesarkan panji NU, berkeliling dari kepengurusan anak cabang hingga ranting. ”Bahkan saya datang ke pelosok desa dengan hanya bermodalkan sepeda pancal,” katanya. Tidak jarang bersama teman aktifis yang lain mencukupkan dengan berjalan kaki. ”Semua itu menjadi pondasi yang kokoh bagaimana berkiprah di NU,” katanya. ”Sehingga buah dari berproses tersebut telah menjadikan semangat berjuang di jam’iyah masih tetap berkobar hingga kini,” lanjutnya.

Berkhidmat di NU terus dijalani hingga kini. Selepas dari IPPNU langsung aktif dalam organisasi keputrian NU yaitu fatayat (1969-1972). Awal bergabung dengan fatayat, langsung dipercaya masuk dalam jajaran pengurus harian, tepatnya menjadi Ketua II PC Fatayat NU Jombang. Dan berbekal pengalaman memimpin IPPNU, selang enam tahun (1978-1983) dipercaya menjadi Ketua PC Fatayat NU Jombang selama satu periode. Dan ditengah khidmat itu (1973-1978) juga dipercaya untuk masuk dalam jajaran kepengurusan harian PC Muslimat NU Jombang sebagai sekretaris.

Baru pada tahun 1984, Mundjidah muda diberi mandat memimpin PC Muslimat NU Jombang untuk kali pertama. ”Namun dengan adanya peraturan larangan rangkap jabatan buah dari Muktmar Situbondo, maka posisi Ketua PC Muslimat NU Jombang harus ditanggalkan,” ungkapnya. Ya karena pada saat bersamaan masih sebagai anggota DPRD Jombang dari PPP. Dan baru pada 1999 hingga 2004 untuk kali kedua posisi Ketua PC Muslimat NU Jombang dipercayakan kepadanya.   Dan pada periode 2016 hingga 2021 kepercayaan untuk menjadi morang pertama di Muslimat NU Jombang, kembali disandangnya.

Pengalaman berorganisasi di NU telah menjadikan Bu Mun semakin memahami karakter warga NU. Kemampuan berorganisasi telah menghantarkannya duduk di kursi wakil rakyat sejak 1971 hingga 2012. Berawal dari Fraksi NU DPRD Kabupaten Jombang (1971-1977) berlanjut selama tiga periode aktif di Fraksi Persatuan Pembangunan DPRD Kabupaten Jombang. ”Ini  sebagai buah kebijakan fusi partai pada masa penguasa Orde Baru yang meleburkan Partai NU ke dalam PPP,” katanya. Dan mulai 1997 hingga 2012 aktif di DPRD Jawa Timur dalam Fraksi Persatuan Pembangunan serta sekarang hingga 2018 menjadi Wakil Bupati Jombang.

Meskipun dipercaya umat menjadi anggota dewan, kegiatan di pesantren tetap dilakukan. Bu Nyai Mundjidah adalah pengasuh asrama Lathifiyyah 2 dan juga Wahabiyyah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Demikian juga kegiatan diluar tetap tidak dikendorkan. Kendati usia telah memasuki kepala enam, namun yang melekat dari dirinya adalah tetap energik dalam beraktifitas.

Dulu, saat posisinya sebagai Ketua PC Muslimat NU Jombang dan sekaligus anggota DPRD Jawa Timur, tetap mengharuskannya mampu membagi waktu dengan baik. ”Dan dengan pengalaman berorganisasi yang telah lama saya lakoni, membuat semua itu bukan sesuatu yang sulit untuk dijalani,” katanya berbagi rahasia.

 

Rahasia Bugar dan Pengharapan

Ketika pertemuan wali santri saat bulan Syawal beberapa waktu berselang di asrama yang diasuhnya, tidak kurang ada yang mempertanyakan kebugaran fisik Ibu Nyai Mundjidah. Jadual padat seharian ketika menjadi anggota DPRD Jawa Timur yang berjarak sekitar 70 KM dari kediamannya masih menyempatkan untuk menjadi imam rawatib, memberikan motifasi serta mengajar santri putri masalah keagamaan dan sosial.

Terhadap kebugaran fisiknya dengan wajah penuh senyum, Ibu Nyai Mundjidah mengingatkan kepada wali santri untuk menjaga kesehatan. Namun demikian ada juga sejumlah bacaan yang direkomendasikan oleh Ibu Mundjidah dan tentunya ajeg dilakukan menemani rutinitas. Sejumlah wiridan ini juga menjadi a’malul yaum atau amaliyah harian bagi para santri di asrama ini. Berkiprah di dunia politik tentu sarat dengan intrik dan bersinggungan dengan sejumlah orang. ”Wiridan itu sebagai pagar saja,” terangnya. Dan tentu saja yang harus dijaga adalah kesucian dalam beraktifitas. Demikian juga harus ikhlas, tidak menyakiti orang lain, membantu sesama dan berbagi dengan penderitaan orang adalah diantara hal lain yang melekat dari diri Ibu Nyai Munjidah.

Karena itu tekad untuk menjadi yang terbaik terus dilakukan, termasuk dengan jabatannya sekarang. Dalam banyak kesempatan, ia telah berjanji untuk memanfaatkan kepercayaan masyarakat ini dengan memperhatikan kebutuhan mereka, termasuk perkembangan fisik dan kesehatan para santri serta sarana sekaligus prasarana pesantren.

Ada sejumlah harapan kepada NU. Diantara harapannya bagi kedepan adalah proses kaderisasi di semua tingkatan. ”Karena organiasi besar harusnya tidak pernah kehabisan kader penerus, pelanjut tongkat estafet masa depan,” pesannya. ”Dan perlu saya tegaskan bahwa pemimpin yang berhasil adalah yang mampu menyiapkan kader bagi kepemimpinan,” lanjutnya.

Selain itu koordinasi antar bidang sudah saatnya semakin diintensifkan, sehingga posisi dan pemilahan tugas masing-masing lini akan mudah ditata dan dibagi. Sebagai contoh, antara IPNU dan Ansor sering terjadi kerancuan, utamanya berkenaan dengan usia. ”Banyak kader yang semestinya berproses di IPNU namun kenyataannya sudah masuk dalam jajaran kepengurusan Ansor,” katanya menyayangkan. Begitu juga dengan IPPNU dan Fatayat. ”Agenda kerja masing-masing lembaga dan badan otonom di NU serta lajnah juga sudah waktunya diadakan sinkronisasi sehingga kesamaan program bisa sejak dini dihindari,” lanjutnya.

Hal yang tak kalah penting untuk juga diperhatikan bagi setiap pengambil kebijakan organisasi adalah kemauan untuk menata organisasi dengan ikhlas dan tulus. ”Karena dengan begitu hasil yang diperoleh akan barakah, yakni baik bagi organisasi maupun diri kita sendiri,” pungkasnya. (s@if)