mahshunah

Nyanyian Jiwa Mahshunah; Perempuan, Agama, dan Keteguhan[1]

Tatapan tajam, gaya bicara tegas, dan antusias terlihat jelas, saat ditanya atau diajak berdiskusi tentang kemaslahatan umat. Itulah sosok ibu Nyai Hj. Mahshunah, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah, Seblak Tebuireng Jombang. Usia memang telah menapak senja, namun semangat berkarya tergambar masih sempurna. Mengajar di sekolah, mengaji di pesantren, berdiskusi dengan tetangga, juga syiar nilai-nilai agama Islam beliau lakoni. Nahwu, imla’, hadist, tafsir dan penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan terus ia kembangkan.

Menjadi perempuan cermat, cerdas dan kuat, tak mewujud begitu saja. Mahshunah tumbuh berkembang mengarungi gelombang kehidupan. Sejak kecil, ayah dan bunda memberi tauladan tentang keras bekerja, ihlas gembira dan berdoa kepada Sang Maha Kuasa. Tak kenal lelah, apalagi berkeluh kesah. Karena memberi manfaat bagi umat, menjadi niat yang telah tertambat.

 

Tumbuh dalam Kultur Agama

Mahshunah lahir di Jombang pada hari Senin, 29 Desember 1952 dari rahim ibu Nyai Hj. Mas’adah, putri dari Ibu Nyai Hj. Maimunah dan Ayah KH. Hisyam Haromain. Dari neneklah silsilah Mahshunah bersambung dengan KH. Romli Tamim, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang. Alkisah, Ibu Nyai Hj. Maimunah adalah putri dari KH. Kholil dengan istri Ibu Nyai Hj. Fathimah. Nah, Ibu Nyai Hj. Fathimah merupakan kakak kandung dari KH. Romli Tamim, ayah KH. Musta’in Romli. Jadi, Mahshunah merupakan bagian dari cucu KH. Mustain Romli.

Setelah menikah, KH. Hisyam Haromain dan Nyai Hj. Mas’adah tinggal di Rejoso. Beliau diberi amanat untuk menjadi pengasuh para santri yang tinggal di komplek Ainus Syam, salah satu lembaga di Pesantren Darul Ulum, yang kini lebih dikenal sebagai komplek IV.

Sejak dalam kandungan, Mahshunah lekat dengan getar nilai agama. Doa-doa selalu menggema, memenuhi ruang-ruang gerak langkahnya. Tak ayal jika nilai agama, merasuk kuat, lekat dalam relung hati dan jiwa.

Tinggal di lingkungan pesantren, membuat Mahshunah selalu gembira. Teman bermain, bercanda, dan belajar, selalu ada. Bermain petak umpet, sonda, menyanyi bersama-sama, juga transaksi jual beli telah ia nikmati. Terkadang, ia berjualan nasi dan lauk pauk, yang diambil dari dapur ibunya. Keakraban dengan teman, membuat Mahshunah banyak memilih menikmati malam dan tidur bersama para santri.

Meski bebas bermain, Mahshunah ditempa disiplin tinggi oleh sang ayah. Bangun pagi, shalat Shubuh berjamaah menjadi awal kegiatan setiap hari. Mengaji, lalu bersiap diri, untuk belajar di sekolah. Mengasah kecerdasan, menambah ilmu pengetahuan, khususnya ilmu keagamaan.

Kedisiplinan kuat melekat karena sang ayah tidak memberi toleransi pada siapapun yang lalai mengaji. Baik pada putra, putri dan para santri. Beliau akan mengingatkan dengan nada tinggi, jika mereka tidak bisa menguasai pelajaran kemarin hari. Masih teringat dalam benak, saat sang ayah memukul kitab seorang santri “Plakk!” karena banyak salah dalam membaca kitab gundul.[2]

Mahshunah juga pernah ditegur keras di rumah, karena ketahuan menahan kantuk saat mengaji di pagi hari. Bagi sang ayah, mencari ilmu adalah tugas utama. Oleh karena itu, mengaji harus dilakukan dengan niat dan sikap prima.

Tauladan ibu juga merasuk dalam laku. Terukir kuat bagai dalam batu. Setiap hari, sang ibu mengajar di sekolah. Meski di pagi buta, beliau harus mengurus rumah tangga. Di sela-sela waktu, beliau mengajarkan keterampilan pada putrinya; sulam, jahit, dan menganyam. Keterampilan khas anak perempuan.

Sejak kecil, hari Mahshunah tak pernah sepi dari karya. Termasuk mengikuti kegiatan di kampung sekitar rumah. Membaca shalawat dziba’[3] dan manaqib[4] bersama tetangga, menjadi arena mengasah diri dalam bersosialisasi. Bait-bait shalawat dan munajat dibaca secara bergantian. Ia berlatih membawa diri, tampil sebagai pemimpin, meski masih berupa pemimpin bacaan.

Mahshunah dikenal fasih membaca manaqib. Sampai pada suatu hari, tetangganya sakit dan tak kunjung sembuh. Hingga ia berkata pada Mahshunah, “Ning, aku tolong didungakno ben ndang waras. Lek waras, aku ngundang sampeyan manaqiban, terus sampeyan tak wenehi ingkung[5] utuh” (Ning, mohon aku didoakan cepat sembuh. Nanti kalau sembuh, aku akan mengundang anda untuk memimpin pembacaan manaqib. Saya akan menyediakan nasi dan lauk ayam utuh 1 ekor).[6] Akhirnya Mahshunah selalu munajat doa untuk kesembuhan temannya. Ketika sembuh, sang teman memenuhi janjinya untuk mengadakan acara pembacaan manaqib, dan memberi 1 ingkung pada Mahshunah.

 

Lahirnya Kesadaran Kritis

Mahshunah kecil terbiasa berkomunikasi dengan baik. Selain banyak bercengkerama dengan teman, sang ayah juga selalu mengajak seluruh anaknya untuk makan malam bersama, sambil membicarakan apa saja; tentang pelajaran di sekolah, materi pengajian dan kegiatan di pondok. Mahshunah juga sering menemani tamu, wali santri sebelum sang ayah dan ibu menemui mereka.

Kebiasaan berkomunikasi ini membuat Mahshunah terbiasa mengasah pikiran. Kritis menjadi bagian dari keseharian. Termasuk kritik Mahshunah terhadap berkat (makanan saat hajatan). Alkisah, berkat dzibaiyah, lebih murah nilainya dibanding manaqib, “Ayah, mengapa berkat dziba’an hanya brubi[7], sementara berkat manaqiban berupa ingkung. Padahal Rasulullah itu lebih tinggi derajatnya dibanding murshid thariqah. Nggeh mbok berkat dzibaan didamel ingkung (Sebaiknya ayah minta masyarakat mengganti berkat dzibaan menjadi ingkung).”

Sedikit terperanjat, sang ayah kaget dengan pertanyaan putrinya. Sudah bertahun-tahun tradisi dziba’an, manaqiban dan makanan penyerta berlangsung, tanpa ada yang mempermasalahkan, tiba-tiba Mahshunah kecil ingin mengubahnya. Tersenyum bahagia menyaksikan kecerdasan putrinya, sang ayah menjawab, “Lha kebiasaane masyarakat wes kadong ngunu. Trus piye? pokok men dadi apik. Ora perlu mengubah tradisi-tradisi seng dudu syar’i” (Itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat, tidak perlu diubah karena bukan substansi syariah Islam).

Jawaban sang ayah, tidak memuaskan hati Mahshunah. Namun, ia tidak bisa mengelak bahwa merubah tradisi tidak mudah, meski tradisi tersebut tidak sejalan dengan logika. Dari sinilah ia belajar memahami perbedaan, dan menghormati jalan pikiran orang lain, yang tidak sama dengan dirinya. Sebagaimana yang dilakukan sang ayah.

Namun tidak semua perbedaan pikiran ia biarkan. Untuk hal-hal yang baginya penting, perjuangannya tak akan padam. Menuntut ilmu misalnya, ia berkeluh kepada sang ayah, yang melarang anak perempuan termasuk alumni Mua’allimat Darul Ulum, untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Para alumnus perempuan, sebagian besar dikirim ke beberapa pesantren untuk menjadi guru sembari menikah.

Mahshunah tidak diam ketika sang ayah juga melarangnya melanjutkan kuliah. “Ayah, kengeng nopo kulo mboten angsal kuliah? Mangke menawi rayat kulo bodoh, mosok urip kulo bodoh terus? Kulo pengen pinter. Kulo kuliah mawon” (Ayah, kenapa aku perempuan tidak boleh kuliah? Kalau suami saya nanti bodoh, masak sepanjang hidup saya akan bodoh? Saya ingin pandai. Saya mau kuliah saja.”

Ayah Mahshunah terdiam. Kemudian menarik nafas panjang. Tak ada kata keluar dari mulutnya. Diam, dan cukup lama terdiam. Sejurus kemudian, beliau berdiri. Meninggalkan Mahshunah, yang masih terpaku bisu.

Hari berselang, Mahshunah tak kunjung mendapat jawaban. Ia sudah tak sabar. Mimpi melanjutkan sekolah, mengenyam ilmu lebih tinggi tak terbendung lagi. Mengadu pada ibu, seperti melangkah tanpa tahu jawaban yang dimau. Karena ibu tidak memiliki keputusan. Sang ayahlah tuan dari segala kebijakan.

Sampai kemudian, Mahshunah kembali merajuk, “Ayah, nopo supe, ‘tholabul ilmi faridlotun ala kulli muslimin wa muslimatin’ (Laki-laki dan perempuan wajib mencari ilmu). Kulo pengen pinter.” Kembali sang ayah diam, dilanjutkan dengan nafas panjang. Pergi berlalu tanpa jawaban.

Bukan perkara mudah bagi sang ayah untuk memberi izin Mahshunah mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Kala itu, di desa Rejoso, termasuk di lingkungan Pesantren Darul Ulum, tidak ada perempuan bersekolah sampai ke perguruan tinggi. Belum lagi, sang ayah selalu mengirim para alumni Madrasah Muallimat yang perempuan untuk mengabdi, mengamalkan ilmu di pesantren lain, biasanya ke daerah Bangil, Pasuruan. Membolehkan Mahshunah kuliah, berarti melepas konsistensinya, yang melarang anak perempuan sekolah. Protes dan cibiran para alumni, juga para kolega, pasti akan diterima.

Selain itu, beliau juga tidak pernah membayangkan, melepas anak gadisnya merantau, hidup lepas dari pengawasan inderanya. Ragu melepas konsistensi, dan khawatir akan keselamatan sang putri, masih bergelayut di hati. Munajat dan istikharah akhirnya menjadi solusi.

Keesokan harinya, sang Ayah memanggil Mahshunah dan memberinya izin melanjutkan sekolah, menempuh sarjana di Kota Pelajar, Yogyakarta. IAIN Sunan Kalijaga menjadi pilihan karena beberapa sanak famili sang ayah tinggal di sana. Selang beberapa hari, berangkatlah Mahshunah, menghirup udara Yogjakarta. Mengenal kehidupan baru, meski untuk sedikit waktu. Yakni mengikuti tes pendaftaran dan menunggu penguman hasil kelulusan.

Bahagia tak terkira, saat kabar menyatakan bahwa ia lulus tes pendaftaran. Segera ia pulang ke rumah, untuk memberi kabar bahagia pada ibu dan ayah. Bekal buku dan kitab ditata. Ia juga pamit pada beberapa teman karibnya. Namun, tiga hari berselang, rasa itu sekejap padam. Saat sang ayah memanggilnya dan berkata, “Nduk, kuliahnya nggak usah diterusno yo? Ayah ora nduwe duwet.” (Nak, kuliah tidak jadi dilanjutkan ya, ayah tidak punya uang). Diam, mulut Mahshunah terbungkam. Kalimat ayahnya tepat di hati menghunjam.

Alkisah, usai dinyatakan lulus tes ujian masuk, setiap calon mahasiswa diwajibkan membayar biaya pendaftaran ulang. Sebagai petani dan guru swasta, ayah Mahshunah tak selalu memiliki uang simpanan.

Gelisah, resah, otaknya berputar mencoba mencari jalan keluar. Tak tahu pada siapa harus mengadu. Sujud dan doa, terus dipanjatkan. Sampai kemudian, ia menghadap sang ayah. Ia melepas satu persatu; kalung, cincin dan anting dari tubuhnya. “Niki mawon disade ayah, ilmu langkung penting timbang meniko” (Perhiasan ini silahkan dijual ayah, ilmu itu lebih penting daripada perhiasan ini).

Rasa terharu, lidahpun kelu. Tak terasa air mata terjatuh. Sang ayah terus memandangi putri sulungnya. Bahagia menyaksikan kobar semangat belajarnya. Namun di satu sisi, hatinya perih karena ia belum dapat mengimbangi. Melangkah, kemudian didekap erat Mahshunah. “Rizki Allah yang punya nak. Semoga ayah dikuatkan dan dimudahkan oleh-Nya.

 

Sebuah Titik Balik

Diantar KH. Hafidz Makshoem, pamannya, ia berangkat kembali ke Yogyakarta. Hati Mahshunah sangat gembira. Impian menggapai cita seakan mewujud nyata. Jurusan Syari’ah dengan spesialisasi Ilmu Tafsir dan Hadist dipilihnya. Ia ingin memahami al-Quran dan Sunnah Nabi dengan lebih seksama.

Hari berganti, bulan berjalan, tahun berselang. Mahshunah semakin menikmati materi kuliah. Tak hanya melahap buku dan kitab di bangku kuliah, ia juga membaca surat kabar dan majalah, yang dibaca bersama teman-teman secara bergantian. Salah satu bacaan yang mengilhami langkahnya adalah profil Margaret Thatcher, Perdana Menteri Perempuan Inggris pertama dan terlama (1979 – 1981), yang kala itu dikupas tuntas oleh Majalah Kartini.

Thatcher mengenalkan kepada khalayak tentang politik dengan perspektif perempuan. Ia menekankan bahwa perempuan seharusnya menjadi subjek politik. Yakni menjadi bagian dari pembuat dan yang mendapat manfaat dari kebijakan negara. “And, you know, there is no such thing as society. There are individual men and women and there are families. And no governments can do anything except through people, and people must look to themselves first.”  (Dan, kamu tahu bahwa tidak ada sebuah masyarakat dimana laki-laki dan perempuan -dilihat secara terpisah-. Laki-laki dan perempuan adalah keluarga. Dan pemerintah tidak dapat melakukan apa-apa kecuali oleh masyarakat. Jadi, masyarakat perlu melihat diri mereka sendiri – yakni keluarga).

Salah satu pendekatan penting dalam menjalankan kebijakan politik, Thatcher menekankan pentingnya peran keluarga. Sehingga perempuan juga dapat berperan signifikan dalam membangun negara. Dalam salah satu pidatonya, ia memberi semangat kepada msyarakat khususnya perempuan, bahwa, “Any woman who understands the problems of running a home will be nearer to understanding the problems of running a country.” (Setiap perempuan yang memahami problematika dalam menjalankan kehidupan berkeluarga, maka ia sudah mulai memahami problematika menjalankan sebuah kehidupan negara) Margaret Thatcher.[8] Artinya, menyelesaikan persoalan negara sangat kompleks dan pendekatan hati, yang biasanya dilakukan oleh perempuan, juga bisa menjadi salah satu cara menyelesaikan persoalan.

Pemikiran-pemikiran Thatcher tentang potensi dan pentingnya peran perempuan dalam kehidupan politik membuka cakrawala berpikir Mahshunah, bahwa perempuan tidak hanya bisa menjadi ibu dan guru, sebagaimana yang ia ketahui di pesantren. Ternyata perempuan juga bisa berperan di banyak arena bahkan menjadi pemimpin sebuah negara.

Mengenal “dunia” luar, terutama tentang peran perempuan yang jauh berbeda dari pengetahuan sebelumnya, membuat gairah belajar Mahshunah semakin membuncah. Tidak hanya belajar di bangku kuliah, ia juga menambah pengetahuan agama dengan mengaji pada KH. Tholhah Manshur SH. tentang ilmu Nahwu (tata bahasa arab), kitab Alfiyah ibnu Malik dan ilmu ‘Arudl, syair-syair bahasa Arab.

Selain itu, ia juga mengepakkan sayap, dengan terlibat dalam kegiatan organisasi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi pilihan. MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru), sebuah masa orientasi yang berisi penggemblengan bagi anggota baru diikuti. Beragam kegiatan PMII juga ia geluti. Sampai kemudian ia terpilih penjadi ketua KORPPRI (KORPS PMII Putri).

Sebagai ketua pada Badan Otonom, di bawah naungan PMII, Mahshunah banyak memimpin kegiatan. Bakti Sosial, pelatihan kader bagi anggota baru, pelatihan kepemimpinan bagi pengurus, pameran dan rapat koordinasi dengan berbagai organisasi kemahasiswaan di wilayah Yogyakarta.

Meski penuh dengan kesibukan, setiap bulan puasa, ia diwajibkan oleh sang ayah untuk pulang ke rumah. Menjadi salah satu pengajar pengajian kilat. Yakni pengajian yang harus khatam (selesai) selama bulan Ramadlan. Pada bulan suci ini, biasanya banyak santri baru yang hanya bermukim selama bulan Ramadlan. Mahshunah selalu mengajar tafsir sebagai keahliannya. Kitab Tafsir Jalalain bagian Juz Amma, Juz 30 dalam al-Quran menjadi bahan ajarnya.

Mengajar adalah kebahagiaan. Panggilan jiwa yang ditularkan oleh ayah dan ibunya. Ia yakin bahwa dengan mengajar, ilmu yang dimiliki akan berkembang. Pada semester VI, Mahshunah tidak hanya kuliah. Ia juga mengajar di Madrasah Muallimat NU (Nahdlatul Ulama), sekolah berbasis agama yang diasuh oleh KH. Sofyan Kholil, yang juga pamannya dari nashab ibu. Ia mengajar Bahasa Arab, imla’[9], tahaji[10] dan khat[11].

Kelurahan Ngampilan terletak di Kecamatan Ngampilan, Yogyakarta. Butuh 2 kali naik angkutan kota untuk sampai di sekolah tersebut. 2 kali seminggu, cukup melelahkan. Apalagi honor dari sekolah hanya cukup untuk membayar ongkos kendaraan dari kos ke sekolah. Untuk menghemat biaya dan tenaga, Mahshunah sering menginap di rumah temannya yang tinggal di desa Ngampilan pada hari terdapat jam mengajar.

Kecintaan terhadap ilmu tafsir dan keingintahuannya tentang peran perempuan dalam Islam, menginspirasi Mahshunah untuk meneliti tentang Kisah Perempuan Teladan dalam kajian Islam. Penelitian itu kemudian terwujud dalam skripsi, tugas akhir kuliah, yang bertajuk “Perempuan-perempuan Teladan dalam al-Quran dan Hadist”. Dikisahkan, istri Ali Imron, ibunda Siti Maryam adalah perempuan luar biasa. Sejak mengandung, istri Ali Imron berdoa, agar anaknya kelak menjadi pembawa kedamaian di Baitul Maqdis. Doa tulus itu kemudian mewujud dalam hadirnya Siti Maryam. Seorang perempuan baik, sabar dan kuat, sehingga mampu menerima mukjizat dari Allah SWT. Yaitu mengandung dan melahirkan seorang Nabi Isa, tanpa kehadiran laki-laki di sampingnya. Keteguhan iman, kekuatan menghadapi fitnah dan cemooh masyarakat karena beliau hamil tanpa laki-laki, menjadi catatan sejarah penting dalam kehidupan agama-agama di dunia.[12]

Demikian juga Siti Asiyah, yang tak gentar melawan suaminya sendiri, Raja Fir’aun. Seorang raja pintar dan kuat yang dikenal sebagai raja di raja sehingga mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kekuatan dan keteguhan iman membuat Asiyah berani berbeda keyakinan dengan suami. Ia tetap meyakini bahwa Tuhannya adalah Allah SWT. Ia mengerti bahwa seorang istri harus menghormati suami. Namun ia juga faham bahwa menghormati siapapun, termasuk suami, tak boleh melebihi perintah ilahi. Apalagi sampai musyrik, mengakui Tuhan selain Allah.  Asiyah tak gentar, meski nyawa menjadi taruhan.

Tercatat juga Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad, yang mempertaruhkan harta dan jiwanya untuk syiar Islam. Siti Fathimah, putri Nabi Muhammad yang bersetia menemani Ali bin Abi Thalib berjuang syiar Islam, dalam suka dan duka. Banyak diceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib sering mengalami keterbatasan biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena waktunya banyak digunakan untuk syiar Islam.

Kajian dalam tugas akhir itu meneguhkan hati Mahshunah, bahwa perempuan memiliki peran besar dalam keberlangsungan peradaban umat manusia.

 

Kesetaraan dalam Rumahtangga

Keasyikan belajar dan berorganisasi membuat Mahshunah tak sempat berpikir tentang lelaki. 24 tahun usia, masih terasa muda baginya. Berbeda dengannya, sanak famili tak sabar melihatnya duduk bersanding di pelaminan. Ketika pulang ke rumah, bersilaturahim dengan keluarga, ia selalu ditanya perihal kapan menikah. Terkadang ia jengkel, namun pertanyaan selalu dijawab dengan senyuman. Sejujurnya, sang ibu sedikit mengalami kepanikan.

Beberapa laki-laki sudah melamar kepada sang ayah. Namun belum juga ada satupun yang mampu membuka hati Mahshunah. Alkisah, sebelum menyetujui pinangan, Mahsunah melakukan tes melalui diskusi. Sayangnya, jalan pikir para lelaki itu tidak ada yang seirama. Padahal, Mahshunah ingin agar suaminya kelak memiliki keselarasan hati dan pikiran. Hingga dapat beriringan dalam perjuangan.

Sampai saat Mahshunah usai wisuda Sarjana Muda, datanglah pemuda dari keluarga Tebuireng, Umar Faruq. Ia adalah putra dari Ibu Nyai Hj. Jamilah dan KH. Nur Aziz, yang merupakan keturunan dari KH. Hasyim Asy’ari. Setelah mendapat izin dari sang ayah untuk taaruf, berdiskusi, keduanya merasa sepadan. Tak banyak beda dalam melihat kehidupan, termasuk peran perempuan dalam keluarga dan sosial kemasyarakatan. Hati Mahshunah luluh, lalu terpana. Keduanya kemudian berniat merajut asa bersama.

Kamis, 7 Juli 1977, bahagia merekah. Pada usia 25 tahun, Mahshunah resmi dipersunting Umar Faruq. Berlangsung di area Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang. Pesta belangsung cukup meriah. Handai taulan, kerabat dan teman berdatangan. Menabur restu untuk kedua pasangan. Tak lupa doa-doa berkumandang, khas acara pernikahan.

Selanjutnya, Mahshunah tinggal di Seblak, masih dalam komplek Pondok Pesantren Tebuireng, Diwek Jombang. Jenjang sarjana ia lanjutkan, namun harus pulang pergi Yogyakarta-Jombang. Hamil tidak menjadi hambatan untuk menyelesaikan tugas kuliah. Sampai kemudian, Mahshunah sempurna menyandang gelar sarjana. Perlu 6 tahun menyelesaikannya.

Waktu berjalan, Mahshunah hidup penuh kebahagiaan. Satu persatu putri ia lahirkan. Rika Iffah Farikhah, Ita Iftitah Sa’diyah dan Ema Rohmawati tumbuh berkembang dalam asuhan.

Bersama sang suami, Mahshunah tak sulit bernegosiasi. Tentang peran dan tugasnya sebagai ibu dan istri. Ia juga tak sungkan meminta, agar sang suami turut menyelesaikan tugas rumah tangga. “Dadi wong lanang ora mesti kudu diladeni, opo maneh mung nggawe teh lan kopi.” (Menjadi suami tak harus dilayani. Apalagi hanya untuk membuat teh atau kopi), katanya sambil tersenyum.

Demikian juga dalam menghadapi masalah. Mereka selalu menyediakan waktu untuk menyelesaikannya. Perbedaan, perselisihan dan konflik memang terjadi. Namun, komunikasi dan saling menghormati menjadi kunci. Hingga keduanya tak pernah berseteru sampai harus menyakiti. Diam, bungkam, terkadang menjadi solusi sementara. Agar konflik tak perlu berujung pelik. Namun bicara, menyampaikan isi hati dan pikiran menjadi jalan keluar nyata, agar pasangan saling memahami masing-masing pandangan. “Ngomong iku penting, ben aku lan suamiku ngerti opo sing ono nang ati lan pikiran” (Bicara itu penting agar suami dan istri memahami apa yang ada di benak hati dan pikiran masing-masing). Berulang kali ia tandaskan.

 

Berkhidmat untuk Umat

Kiprah di masyarakat, dimulai dengan mengajar. Mengikuti jejak ibu dan ayah sang panutan. Bidayatul Hidayah, ushul fiqh, bahasa Arab, nahwu dan Ta’liimul Muta’allim ia ajarkan. Pada murid yang sekolah di Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, juga santri yang mondok dalam asuhannya.

Di masyarakat, ia berkhidmat pada Fatayat, salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama yang menjadi wadah perempuan muda mengabdi untuk negeri. Pembacaan shalawat dzibai’iyah, bakti sosial dan pengajian di masyarakat ia lakoni.  Sampai di tahun 1984, ia terpilih menjadi Ketua PC Fatayat NU Jombang.

Dalam kepemimpinannya, gerak Fatayat ditingkatkan. Terutama dalam memaknai shalawat. Sebagai ahli tafsir dan hadits, anggota Fatayat dan masyarakat diajarkan untuk memahami shalawat dan kisah kisah di balik shalawat tersebut. Semua ini bertujuan agar dakwah Nabi Muhammad menjadi tauladan umat.

Salah satu yang menjadi penekanan Mahshunah dalam memimpin Fatayat adalah agar perempuan menjaga marwah dan kehormatannya. Mahshunah sangat tegas melarang pergaulan bebas laki-laki dan perempuan. “Silahkan laki-laki dan perempuan berkegiatan, diskusi, seminar atau bakti sosial. Namun rambu-rambu agama harus ditegakkan. Dilarang keras, laki-laki membonceng perempuan bukan muhrim, meskipun mereka panitia kegiatan”.

Seiring bertambahnya usia, tahun 1987, Mahshunah pindah dari Fatayat ke Muslimat NU, Badan Otonom NU yang berisi gerakan para ibu nahdliyin. Dalam wadah Muslimat NU Jombang, gerakan Mahshunah lebih luas menjangkau umat karena jamaah Muslimat dikenal paling solid dalam menyelenggarakan kegiatan, terutama pengajian. Mahshunah menjadi narasumber atau dai untuk pengajian di berbagai wilayah Jombang, baik di wilayah perkotaan, maupun di wilayah pinggiran seperti Wonosalam, Kabuh dan Ngusikan. Nama Mahshunah semakin dikenal masyarakat, terutama oleh jamaah Muslimat. Kiprah Mahshunah semakin diakui.

Sampai kemudian ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Muslimat, yang kala itu dipimpin oleh Hj. Mundjidah Wahab. Pada waktu yang hampir bersamaan, Menjelang PEMILU 1987, Mahshunah diminta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai juru kampanye.

Pada masa ini, Mahshunah mengalami masa-masa sulit. Tepatnya sejak Muktamar NU di Situbondo yang memutuskan bahwa NU kembali kepada Khittah ‘26. Artinya NU kembali sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, tidak lagi terlibat dalam kegiatan politik.

Sejak penetapan Khittah NU ’26, beberapa kali pengajian Muslimat NU diganggu oleh kelompok tidak bertanggungjawab. Saat pengajian kubro di Alun-alun Mojoagung misalnya, bendera Muslimat dicopot dan dirobohkan. Wargapun panik ketakutan sehingga pengajian dibatalkan. Selain itu, fitnah juga menyebar bahwa Muslimat NU mengingkari Khittah Muktamar NU Situbondo. Yakni Muslimat NU masih berafiliasi dengan sebuah partai, yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Mahshunah dalam dilema. Sebagai pimpinan Muslimat NU, ia bertanggungjawab menjalankan amanah, termasuk melakukan pendidikan keagamaan kepada masyarakat. Namun di sisi lain, ia juga anggota partai politik, yang wajib melakukan kampanye partai menjelang Pemilu.

Berbeda dengannya, lawan politik justru menjadikan momentum ini menjadi senjata politik adu domba. Ia difitnah telah keluar dari jam’iyah NU. Fitnah menyebar, bahkan sampai pada orang-orang penting dalam kehidupan Mahshunah. Tekanan terberat adalah ketika sang Ibu mertua juga menilai bahwa ia mengorbankan Ahlus Sunah Waljamaah demi kepentingan politik. Sampai-sampai beliau menyarankannya keluar dari anggota PPP. Sejatinya, Mahshunah selalu bertanggungjawab dengan Khittah NU tersebut. Dalam setiap pengajian Muslimat NU, ia pun murni menyampaikan kajian Islam.

Hati Mahshunah gundah. Baginya, keluarga tak terkecuali mertua, adalah lingkaran utama pendorong langkah. Jika keluarga, tidak mendukung geraknya, maka tersendat pula semangat batinnya.

Mahshunah begitu mencintai NU. Sejak kecil ia akrab dengan tradisi  dzibaiyah dan manaqiban. Namun di sisi lain, ia juga telah ditempa oleh gerakan keorganisasian. Bergelut dalam organisasi sosial sejak mahasiswa, membuatnya mengerti bahwa dengan berpolitik, ia dapat membuat langkah dakwahnya lebih strategis. Langkah untuk memanfaatkan segala sumber daya negara untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat. Maka, iapun yakin bahwa menjadi jamaah nahdliyin, tidak harus melepas tugas kepartaian. Perbedaan faham dengan mertua, membuat hati Mahshunah gelisah. Hari-hari dijalani penuh rikuh. Semakin hari, hatinya semakin bergemuruh. Setiap keluar rumah, seakan ada yang tak rela melepasnya. Sampai-sampai, terbersit keinginan untuk tinggal jauh dari mertua.

Tak tahan dengan segala tekanan, akhirnya ia meminta nasihat KH Adlan Ali, pimpinan Jamiyyah Thariqah Naqsabandiyah di Cukir, atas dilema yang sedang mendera. Dengan tenang, Kiai Adlan bertanya, “Apakah di Tebuireng kamu masih diperbolehkan mengajar?” Dengan kepala terangguk, Mahshunah menjawab “Ya”. “Itu tanda bahwa kamu harus tinggal di Cukir. Jangan pernah tinggalkan mengajar.” Lebih lanjut, beliau berpesan kepada Mahshunah, untuk tetap hormat pada mertua, terus mengajar, terus dengan kegiatan Muslimat NU dan terus dengan kegiatan partai. “Asal niatmu bagus, insya Allah akan ada jalan keluar atas perbedaan pandangan ini.”

Petuah KH. Adlan Ali membuat hati Mahshunah tak lagi gundah. Semangat menjalankan tugas mulai tumbuh kembali. Bahkan ia tercatat sebagai salah satu juru kampanye perempuan andalan PPP. Pada Pemilu tahun 1992, ia didorong partai untuk mencalonkan diri sebagai calon dan kemudian terpilih menjadi anggota legislatif di Jombang.

Berada di komisi A, ia bertugas membenahi sistem pemerintahan. Seluk beluk penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan benar ia geluti. Salah satu sistem yang diperjuangkan adalah sistem pemilihan kepala desa yang bersih. Beberapa peraturan ditetapkan, termasuk larangan keras bagi calon kepala desa yang memberi barang atau uang kepada warga menjelang hari pemilihan. Selain itu, ia mendorong program pendidikan politik, agar masyarakat lebih selektif dalam memilih pemimpin desanya. Ia pergi ke desa-desa, menumbuhkan kesadaran pentingnya memilih pemimpin yang benar, bukan karena iming-iming jabatan atau uang.

Perbaikan sistem juga dilakukan pada proses pemilihan bupati dan wakilnya. Di sinilah tantangan terasa berat. Kala itu, bupati dan wakil bupati dipilih oleh DPRD. Menjelang pemilihan, suasana politik memanas. Beragam rayuan, tipuan, bahkan tekanan sangat beringas. Apalagi pilihan dia bukan pilihan anggota mayoritas anggota dewan. Beberapa kali ia menerima pesan bahwa ia akan menjadi target penculikan dan bahkan pembunuhan. Sering ia melihat laki-laki tak dikenal mondar mandir di depan pagar rumah.

Khawatir akan keselamatan diri terkadang muncul. Namun kekhawatiran itu juga yang menjadikannya lebih dekat memohon kepada Sang Penjaga Alam Raya, agar ia dan keluarga dilindungi dan diberi kekuatan untuk menjalankan tugas hidupnya.

Saat bupati dan wakil bupati telah terpilih, seketika itu pula teror mengendor. Tak jelas apakah memang para kandidat di balik semua muslihat, atau para pembuat fitnah sedang memainkan peran jahat? Sampai kini, muslihat licik dalam politik ini masih terasa. Pelakunya juga selalu masih menjadi tanda tanya.

Sebenarnya, teror kematian tak cukup membuat Mahshunah takut. Ada persoalan lain yang membuat pikirannya kalut. Yakni mencari jalan keluar bagi persoalan pekerja seks komersial. Di satu sisi, kegiatan ini dilarang keras dalam tuntunan agama. Namun penutupannya, juga dapat menghadirkan petaka. Kegiatan seks komersial tersebar tak jelas tempatnya. Penyakit menular seksual menjalar liar, tak jelas ujung rimbanya. Jika negara menafikannya, maka perlindungan bagi para pencari nafkah dalam roda geraknya tak dapat tertata. Hukum dan keadilan di ruang-ruang transaksi tak dapat ditegakkan. Mereka akan dianggap tiada, padahal kehidupan mereka nyata, bahkan sejak dalam sejarah peradaban manusia.

Tokoh-tokoh partai ia ajak diskusi. Para ulama sepuh juga ia kunjungi, untuk meminta petuah, tentang sikap paling bijak menyelesaikan persoalan lokalisasi. Sebagai partai berbasis Islam, mayoritas mereka menyarankan penutupan lokalisasi.

Dalam bimbang ia bersujud, memohon petunjuk Tuhan untuk menjunjung keadilan. Tak lupa, ia selalu berdoa agar para perempuan pekerja seks komersial diberi kekuatan untuk mencari jalan keluar dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Seks bagi perempuan untuk dinikmati, bukan untuk melayani, apalagi dijajakan sehingga rentan kekerasan.

Sampai pada akhirnya, ia menentukan sikap bahwa ia mendukung penegakan keadilan dan perlindungan bagi setiap warga. Lokalisasi tak dapat dielak, namun program penciptaan lapangan kerja bagi para PSK, harus juga dilakukan. Agar mereka bisa menata kehidupan yang lebih baik. Lokalisasi bukan untuk menghalalkan prostitusi, tapi untuk melindungi warga bangsa yang nasibnya sedang tersisih.

Hampir tiga periode Mahshunah berkhidmat menjadi wakil rakyat. Ia kemudian memilih kembali mengabdi pada dunia pendidikan dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Sudah lebih dari 10 tahun berperan aktif dalam kegiatan politik. Menjadi anggota legislatif biasa, ia lakoni. Pada periode kedua, yakni pada pemilu 1997, ia menjadi Wakil Ketua Komisi A, dan pada periode ketiga, ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jombang.

 

Nyanyian Jiwa Mahshunah

Matahari mulai temaram. Mahshunah duduk menerawang, sembari menyaksikan para santri lalu lalang. Ia menarik nafas dalam-dalam. Seberkas senyum tipis terselip di bibirnya. Seolah mengabarkan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidupnya. Masa kecil di kampung, kuliah di Yogja, mengenal Margaret Thatcher, merasakan indahnya berorganisasi, lika liku parlemen, membangun komunitas dan menyiapkan calon pemimpin negeri. Rangkaian perjalanan itu bagaikan nada dalam nyanyian jiwanya.

Kini, 64 tahun sudah usianya. Kerut di wajah sudah terlihat nyata. Langkahnya tak lagi lincah. Tiga putrinya sudah menempuh bahtera kehidupan bersama pasangan mereka. Sang suami juga terlebih dahulu menghadap Sang Maha Kuasa. Mahshunah masih mengisi hari untuk meneruskan visi hidup yang belum selesai.

Ia kini mengabdi, menyiapkan generasi penerus negeri. Menggembleng para murid dan santri, agar nantinya mampu menjadi calon pemimpin, yang bisa mengembangkan pengetahuan, menanamkan benih luhur nilai keagamaan serta menebarkan kebaikan.

Di akhir tutur, ia berpesan agar generasi muda terus mencari ilmu setinggi-tingginya. Laju teknologi harus dikuasai. Namun agama hendaknya menjadi kendali. Sehingga teknologi dapat membawa kemanfaatan -bukan kerusakan- bagi kehidupan.

 

Referensi:

Biography Margaret Thatcher, di akses di http://www.biography.com/people/margaret-thatcher-9504796#synopsis pada 11 Juli 2016.

 

Mahshunah. 1978. Perempuan Teladan dalam Al-Qur’an dan Hadist. Skripsi S1 Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, tidak dipublikasikan.

 

Sri Mulyani. Eka. 2012. Women from Traditional Islamic Educational Institutions in Indonesia. Amsterdam University Press.

 

Wawancara mendalam dengan Dra. Hj. Mahshunah pada tanggal 15 dan 21 Juni 2016.

 

 

 

Biodata Penulis:

Nama                                      : Alfiyah Ashmad

  1. TGL Lahir : Jombang, 12 April 1976

Telpon                                   : 0813 3535 339

Organisasi                             : Divisi Litbang PC Muslimat NU Jombang

Email                                      : alfiyah.ashmad@yahoo.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Biografi ini ditulis oleh Alfiyah Ashmad, Divisi Litbang PC Muslimat NU Jombang

[2] Kitab dalam bahsa Arab tanpa harokat (tanda baca) dan tanpa arti.

[3] Kitab berisi sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

[4] Pujian kepada Syeikh Abdul Qodir Jailani, salah satu pimpinan toriqoh Nagsyabandiyah.

[5] Ingkung adalah ayam yang dimasak utuh, dari kaki sampai kepala.

[6] Pemberian satu ekor ayam utuh merupakan lambing penghormatan.

[7] Makanan tradisional dari tepung terigu berisi pisang.

[8] Diakses dari http://www.biography.com/people/margaret-thatcher-9504796#synopsis pada 11 Juli 2016

[9] Imla’ adalah sebuah metode menulis bahasa Arab dengan metode mendikte.

[10] Tahaji adalah metode menulis Arab

[11] Khot adalah Seni menulis kalimat dalam bahasa Arab

[12] Mahshunah. 1978. Perempuan Teladan dalam Al-Qur’an dan Hadist. Skripsi S1 Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, tidak dipublikasikan.